#INFOKES

Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) : Alasan di Balik Munculnya Tren Ice Bucket Challenge ​

Tren ice bucket challenge (Sumber: prnewswire.com)

Masih ingatkah kaliah dengan ice bucket challenge atau tantangan ember es yang sempat viral pada pertengahan tahun 2014 lalu? Tantangan yang sempat populer di media sosial ini mengharuskan pesertanya untuk menyiram diri mereka sendiri dengan ember yang dipenuhi oleh air es. Dibalik keseruan tantangan tersebut ternyata ada alasan khusus yang mendorong munculnya challenge ini.  Ice bucket challenge diketahui ada untuk mendukung para penderita penyakit amyotrophic lateral sclerosis atau ALS. Penderita ALS pada beberapa kondisi dapat memiliki gejala mati rasa atau tidak dapat merasakan tubuhnya sendiri. Tantangan ini dilakukan sebagai bentuk rasa empati kepada penderita ALS dengan ikut merasakan yang sedang dirasakan oleh penderita. Air es yang dingin ketika disiramkan dapat menimbulkan sensasi dingin dan mati rasa pada peserta selama beberapa saat. Selain itu, melalui tantangan ini diadakan juga penggalian dana untuk membantu pendanaan penelitian mengenai penyakit tersebut.

Lalu apa itu ALS? Apa saja tanda dan gejalanya? Seberapa berbahayakah penyakit ini? Yuk mari kita bahas lebih lanjut!

Amyotrophic lateral sclerosis atau ALS merupakan penyakit neurological langka yang menyerang sel saraf (neuron) di otak dan sumsum tulang belakang. Di mana, sel saraf yang mengalami gangguan tersebut memiliki fungsi dalam mengatur otot pada gerakan volunteer atau gerakan yang disadari, seperti mengunyah, berjalan, berbicara, bernapas, dan sebagainya. Penyakit ini dapat memiliki gejala progresif yang akan memburuk seiring berjalannya waktu.

Pada tahun 2016, Centers for Disease Control and Prevention memperkirakan sebanyak 14.000 sampai 15.000 orang menderita ALS di Amerika. Sedangkan di Inggris, ALS menyerang sekitar 2 dari 100.000 orang setiap tahunnya dan secara umum penyakit ini memiliki prevalensi sebanyak 6 dari 100.000 orang menderita ALS. Di Indonesia sendiri masih belum ada basis data jelas mengenai jumlah penderita ALS setiap tahunnya.

ALS juga sering disebut sebagai Lou Gehrig’s disease yang mana diambil dari nama pemain bisbol yang pernah terdiagnosa mengalami penyakit tersebut. Sampai saat ini belum dapat dipastikan penyebab dari penyakit ini. Namun, mayoritas kasus ALS sebesar 90% atau lebih dianggap sporadis, artinya penyakit ini terjadi secara acak dan belum jelas faktor resikonya. Sumber lain juga menyebutkan bahwa 5-10% kasus ALS berkaitan dengan faktor genetik atau keturunan. Selain itu, umur juga merupakan faktor lain yang dapat meningkatkan potensi terserang ALS.  Walaupun penyakit ini dapat menyerang penderita dari berbagai jenjang usia, namun ALS paling sering ditemui pada penderita dari rentang usia 55-75 tahun. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa jenis kelamin juga dapat menentukan tingkat resiko terserang ALS di mana diketahui bahwa pria memiliki faktor resiko lebih tinggi dibandingkan dengan wanita.

Stephen Hawking, salah satu tokoh dunia penderita ALS (Sumber: sfgate.com)

Tanda dan gejala ALS dapat sangat bervariasi dari orang ke orang. Tanda dan gejala yang timbul dapat berupa kesulitan berjalan atau melakukan aktivitas sehari-hari, mudah tersandung atau jatuh, kelemahan di tungkai atau kaki sampai ke pergelangan, tangan melemah, bicara menjadi cadel dan susah menelan, kram otot, terasa kedutan di lengan, bahu, dan lidah, perubahan kognitif atau perilaku, serta dapat juga mengalami gejala berupa tertawa, menangis, dan menguap yang tidak wajar. ALS dapat dimulai dari tangan, kaki atau tungkai, dan kemudian menyebar ke anggota tubuh lainnya. Ketika penyakit semakin berkembang, maka otot akan semakin melemah dan mempengaruhi kemampuan mengunyah, menelan, berbicara, dan bernapas dari penderita. Sebagian besar penderita ALS meninggal karena kegagalan pernapasan yang biasanya bertahan dalam waktu 3-5 tahun sejak gejala pertama kali muncul. Namun, 10% penderita ALS dapat bertahan hidup selama 10 tahun atau lebih.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa gejala ALS bersifat progresif atau akan memburuk seiring berjalannya waktu, maka dari itu diperlukan langkah yang serius dalam menangani penyakit ini. Terdapat beberapa penanganan yang bisa diberikan kepada penderita ALS, salah satunya melalui terapi atau latihan fisik oleh Fisioterapis. Latihan fisik yang diberikan biasanya akan berfokus pada perbaikan postur tubuh, mencegah imobilitas sendi, serta memperlambat pelemahan dan atrofi otot yang terjadi secara progresif. Latihan fisik tersebut dapat berupa peregangan untuk mengurangi spastisitas otot, meningkatkan rentang gerak, dan meningkatkan sirkulasi. Latihan lain yang dapat diberikan, seperti aerobik, berjalan, berenang, dan bersepeda statis juga dapat membantu memperkuat otot, meningkatkan kesehatan kardiovaskular, dan membantu dalam meringankan depresi. Modalitas lain seperti terapi suhu panas dan massage juga dapat diaplikasikan untuk meredakan gejala nyeri yang timbul. Selain penanganan dengan terapi atau latihan fisik dapat juga dilakukan beberapa penanganan lain, seperti penanganan dengan breathing care, obat-obatan, dan juga dapat berupa dukungan sosial terhadap penderita.

Sumber :

2017. Amyotrophic Lateral Sclerosis. [ebook] Bethesda: National Institute of Neurological Disordersand Stroke. Available at: <https://www.ninds.nih.gov/sites/default/files/ALS_FactSheet-E_508C.pdf> [Accessed 15 August 2020].

Mayoclinic.org. 2019. Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) – Care At Mayo Clinic – Mayo Clinic. [online] Available at: <https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/amyotrophic-lateral-sclerosis/care-at-mayo-clinic/mac-20354030> [Accessed 15 August 2020].

Physiopedia. 2020. Amyotrophic Lateral Sclerosis. [online] Available at: <https://www.physio-pedia.com/Amyotrophic_Lateral_Sclerosis#:~:text=Amyotrophic%20lateral%20sclerosis%20(ALS)%2C,Motor%20Neurone%20Diseases%20(MND).> [Accessed 15 August 2020].

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *