ACTION Yuk! tuk Cegah Osteoarthritis

Tulang dan sendi merupakan dua hal yang sangat berkaitan dalam pergerakan manusia. Sering kita temui adanya masalah pada hal tersebut. Adanya nyeri ataupun kekakuan pada sendi sudah tidak lazim lagi kita dengar. Nyeri pada tulang dan sendi merupakan masalah yang sering terjadi. Tidak hanya itu, kekakuan pada sendi juga sering kita temui pada kehidupan sehari-hari. Salah satu masalah yang paling sering dan signifikan terjadi pada sendi adalah osteoarthritis (OA).

Terdapat kecenderungan bahwa kemungkinan terkena osteoarthritis ini akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Penyakit ini biasanya berbanding lurus jumlah kejadiannya pada pria dan wanita pada usia 45-55 tahun. Setelah usia 55 tahun, cenderung lebih banyak 3 kali lebih besar terjadi pada wanita. Di Indonesia, prevalensi osteoartritis mencapai 5% pada usia 61 tahun. Untuk osteoarthritis (OA) yang terkena di lutut prevalensinya cukup tinggi yaitu 15,5% pada pria dan 12,7% pada wanita. Pasien OA biasanya mengeluh nyeri saat melakukan aktivitas atau jika ada pembebanan pada sendi yang terkena. Pada derajat nyeri yang berat dan terus menerus bisa mengganggu mobilitas atau pergerakan. Diperkirakan 1 sampai 2 juta orang lanjut usia di Indonesia menderita cacat karena penyakit OA.

Kemudian apa itu osteoarthritis? Osteoarthritis (OA) merupakan suatu kelainan degenerasi sendi yang terjadi pada cartilage (tulang rawan) yang ditandai dengan timbulnya nyeri saat terjadi penekanan atau pembebanan pada sendi yang terkena. Osteoartritis (OA) adalah kondisi kronis sendi yang paling umum dan dapat mempengaruhi sendi mana pun, tetapi paling sering terjadi di lutut, pinggul, punggung bawah dan leher, sendi kecil jari, dan
pangkal ibu jari dan jempol kaki. Pada persendian normal, tulang rawan hialin menutupi ujung setiap tulang.
Hal-hal apa saja yang dapat menimbulkan penyakit ini? Sebenarnya ada banyak faktor risikonya. Faktor usia merupakan faktor risiko paling umum pada OA. Proses penuaan meningkatkan kerentanan sendi melalui berbagai mekanisme. Selain itu, otot-otot yang menunjang sendi menjadi lemah dan memiliki respon yang lambat terhadap impuls. Ligamen menjadi semakin regang, sehingga kurang dalam mengabsorbsi impuls. Faktor terkena OA pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Risiko ini dapat dikaitkan dengan berkurangnya hormon pada perempuan saat pasca menopause. Faktor lainnya yaitu obesitas, beban berlebihan pada sendi dapat mempercepat kerusakan pada sendi dan aktivitas yang sering dan berulang-ulang pada sendi dapat menyebabkan lelahnya otot-otot yang membantu pergerakan sendi. Hal tersebut juga merupakan faktor risiko terkena OA.

Setelah mengetahui dari penyebab dari OA, adapun gejala-gejala yang ditimbulkan dari penyakit ini. Gejala-gejalanya, yaitu timbul rasa nyeri, adanya batasan pada pergerakan, suara yang didengar seperti suara retak, gesekan, dan suara krepitasi. Kemudian timbulnya rasa sakit serta mobilisasi yang sangat terbatas atau sulit digerakkan dan timbul pembengkakan ringan di sekitar sendi.

Jadi, bagaimana kita mencegah OA? Apa saja yang harus kita lakukan untuk mencegah penyakit OA ini? Hal-hal yang harus dilakukan yaitu dengan ACTION:

  • Ayo makan-makanan yang bergizi
  • Cobalah untuk berhati-hati dalam beraktivitas agar terhindar dari kecelakaan yang menyebabkan kerusakan sendi
  • Tetap memposisikan badan dengan benar saat berjalan, duduk, dan mengangkat barang
  • Istirahat yang cukup
  • Olahraga teratur
  • No sugar, dalam mencegah osteoarthritis kita tidak boleh terlalu banyak makan-makanan yang gulanya tinggi

Pengobatan untuk penyakit osteoarthritis ini dapat dilakukan oleh fisioterapis. Fisioterapi adalah bagian penting dari manajemen OA dan akan menjadi instrumen dalam mengajar orang untuk melatih sendi dengan benar, berolahraga dengan benar dalam latihan gerak, dan kelenturan serta latihan kardiovaskular, merekomendasikan penggunaan modalitas, misalnya terapi panas atau dingin. Selain itu, fisioterapis juga akan memberikan edukasi dan program latihan di rumah. Edukasi program latihan di rumah ini merupakan hal yang penting bagi penderita OA. Edukasi yang diberikan adalah tentang penyakit OA, prinsip perlidungan sendi, bagaimana manajemen gejala OA, dan program latihan di rumah. Program yang diberikan adalah latihan yang aman dan tidak begitu berat dilakukan di rumah berupa latihan penguatan otot, latihan luas gerak sendi, dan latihan daya tahan. Pasien dengan berat badan yang berlebih dianjurkan untuk mengurangi berat badannya.

Sumber:
Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia. 2017. Osteoarthis. Available at: http://imfi.or.id/index.php/2017/05/28/osteoarthritis/ (Di akses 14 Maret 2021)
Nurrahman, M. R. 2018. ‘Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Osteoarthritis Knee Dextra dengan Infra Red, Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation dan Terapi Latihan di RSUD Dr. Moewardi’. Available at: http://eprints.ums.ac.id/63203/ (Di akses 14 Maret 2021)
Physiopedia. 2020. Osteoarthis. Available at: https://www.physio-pedia.com/Osteoarthritis (Di akses 14 Maret 2021)
Tyson, W. J. 2015. ‘Diagnosis and treatment’, British Medical Journal, 1(3096), p. 619. doi: 10.1136/bmj.1.3096.619-a. Available at: https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/download/572/576 (Di akses 14 Maret 2021)