Salah Posisi Saat Mengangkat Beban ? Waspada HNP (Hernia Nucleus Pulposus) !

Kebiasaan salah posisi saat mengangkat beban dapat menyebabkan Hernia Nucleus
Pulposus (HNP). Hernia Nucleus Pulposus (HNP) sering disebut sebagai saraf kejepit yang
merupakan suatu kondisi perpindahan diskus atau bantalan sendi diluar batas ruang tulang
belakang yang menyebabkan nyeri, mati rasa, hingga kesemutan. Hernia Nucleus Pulposus
(HNP) menyebabkan terjadinya gangguan pada sistem saraf yang didahului dengan perubahan degeneratif. Kondisi tersebut ditandai dengan adanya nyeri tajam pada daerah yang cedera, adanya spasme pada otot serta penurunan lingkup gerak sendi yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Hernia Nucleus Pulposus (HNP) biasanya terjadi pada usia muda hingga lansia dan sering ditemukan pada pasien usia produktif yakni usia 35 hingga 55 tahun (Herliana et al, 2017). Pada usia tersebut sangat rawan terdiagnosa HNP sehingga dapat menyebabkan keharusan untuk melakukan tindakan operasi agar dapat sembuh. Gejala dari HNP tersebut tergantung pada lokasi serta tingkat keparahannya. Adapun beberapa gejala umum dari HNP, yaitu:

  1. Nyeri
    Nyeri yang dialami dapat dirasakan sesuai lokasi saraf yang tertekan, yakni pada punggung, leher, atau kaki, tergantung pada lokasi HNP. Timbulnya rasa nyeri pada area saraf yang tertekan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
  2. Kesemutan
    Hernia Nucleus Pulposus (HNP) juga ditandai dengan adanya rasa kesemutan serta mati rasa di area saraf yang tertekan.
  3. Kelemahan otot
    Terjadinya kelemahan otot di bagian tulang belakang yang areanya dipersarafi oleh saraf yang tertekan.
  4. Kesulitan berjalan
    Pada penderita HNP juga dapat mengalami kesulitan dalam berjalan jika kasus tersebut sudah tergolong parah.

Hernia Nucleus Pulposus (HNP) dapat menyebabkan pasien merasa sakit dan sulit untuk melakukan gerakan sehari-hari seperti gerakan mengangkat barang berulang, menarik dan mendorong benda, serta gerakan membungkuk. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya penyempitan saraf melalui tulang belakang (Sipayung et al, 2020). Hernia Nucleus Pulposus (HNP) semakin diperparah dengan adanya rasa tertusuk-tusuk pada salah satu daerah ekstremitas yang terdampak. Seiring dengan meningkatnya usia seseorang rasa sakit pada saraf kejepit semakin parah yang mengakibatkan tubuh menjadi kurang lentur serta penipisan nucleus pulposus (Moore et al, 2013). Selain itu, adapun beberapa penyebab dari terjadinya Hernia nucleus pulposus (HNP), yaitu:

1) Sering melakukan aktivitas fisik berlebihan seperti mengangkat benda yang cukup berat
dengan posisi tubuh yang salah, sehingga menyebabkan saraf kejepit yang menimbulkan rasa nyeri.

2) Sering melakukan gerakan yang salah saat beraktivitas sehingga menyebabkan saraf yang
berada di tulang punggung bawah mengalami penyempitan.

3) Sering menerapkan kebiasaan sikap duduk yang salah dengan jangka waktu yang lama
sehingga akhirnya dapat menyebabkan tulang belakang menjadi bungkuk dan timbul rasa
nyeri seperti tertusuk-tusuk.

Perawatan yang dapat diberikan fisioterapis terhadap pasien dengan gejala HNP yaitu dengan mendiagnosis suatu gejala yang terjadi seperti anamnesis. Anamnesis yang diberikan meliputi: nilai rasa nyeri pada area punggung bawah dan radikuler, abnormalitas sensorik pada distribusi akar saraf lumbosakral, kelemahan pada distribusi akar saraf lumbosakral, fleksi trunkus yang terbatas, eksaserbasi nyeri dengan mengejan (batuk dan bersin), meningkatnya nyeri saat duduk, kualitas nyeri hingga efek yang terjadi pada aktivitas pasien. Selain mendiagnosis tenaga kesehatan ataupun fisioterapis juga akan memberikan suatu modalitas, seperti;

  1. Radiografi
  2. Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS)
  3. Activation Deep Muscle Exercise
  4. Isotonic Resistive Exercise     

Modalitas tersebut digunakan untuk mengurangi rasa nyeri, meningkatkan nilai kekuatan otot, dan meningkatkan aktivitas fungsional. Namun hal ini tidak dapat sepenuhnya membantu pasien HNP jika tidak diimbangi dengan pencegahan kebiasaan buruk yang dilakukan. Berikut pencegahan serta tindak lanjut secara mandiri pada pasien dengan HNP (Kurnianto, 2019):

  1. Berolahraga secara teratur, khususnya jenis olahraga yang berfungsi untuk menguatkan otot serta sendi di tungkai dan punggung, misalnya berenang.
  2. Mempertahankan postur tubuh yang baik, seperti duduk secara proporsional (punggung yang tegak), atau mengangkat beban dengan posisi tubuh yang benar (ergonomis).
  3. Mempertahankan berat badan ideal, untuk mencegah tekanan berlebih pada tulang belakang.
  4. Menjaga pola hidup dengan berhenti merokok, karena kandungan di dalam rokok bisa mengurangi suplai oksigen ke bantalan tulang belakang.
  5. Melakukan peregangan ataupun berdiri ketika telah duduk dengan jangka waktu yang lama.

Sumber:

Aditya Kurnianto, D. T. P., 2024. HERNIA NUCLEUS PULPOSUS. [Online]
Available at: https://www.rskariadi.co.id/news/210/HERNIA-NUCLEUS-
PULPOSUS/Artikel

Amita, N., 2021. SELF-COMPASSION PASIEN DENGAN SAKIT HERNIA NUKLEUS
PULPOSUS. [Online]
Available at: https://online-
journal.unja.ac.id/kedokteran/article/download/19249/13698/54306

Cahyati, Y. I., 2015. PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI HERNIA
NUCLEUS PULPOSUS (HNP) PADA L5-S1 DI RSUD SALATIGA. [Online]
Available at: https://eprints.ums.ac.id/35747/1/naskah%20publikasi.pdf

Mega Yulia Rusmayanti, S. N. K., 2023. HNP LUMBALIS. [Online]
Available at: https://jphv.ub.ac.id/index.php/jphv/article/download/248/46/772

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *