Anda pernah mengalami keseleo atau sprain ankle? Segera ambil tindakan sebelum berakibat fatal hingga mengganggu aktivitas sehari-hari Anda.

Pengertian dan Gejala Sprain Ankle

Sprain ankle merupakan cedera yang terjadi pada pergelangan kaki (ankle) karena adanya peregangan berlebihan (overstretch) atau robekan di area ligamen ankle dengan  posisi  plantar  flexi  dan  inversi  yang secara  mendadak  ketika kaki tidak  dapat menumpu  dengan sempurna pada  permukaan  tanah (Setyaningratri et al, 2022). Adapun gejala dari seseorang yang mengalami sprain ankle, yaitu:

  • Timbulnya kekakuan pada pergelangan kaki ketika menapak
  • Terjadinya kelemahan otot inventor yakni otot fleksor hallucis longus, tibialis anterior, dan tibialis posterior serta tendinitis
  • Timbulnya rasa nyeri, ketika kaki terkilir saat menopang berat badan
  • Terjadinya pembengkakan dan memar pada pergelangan kaki
  • Pergerakan sendi pergelangan kaki jadi terbatas.

Penyebab Sprain Ankle

Sprain ankle biasanya diakibatkan oleh aktivitas pergerakan kaki yang tidak terduga atau dipaksakan, seperti saat terpeleset maupun jatuh. Sprain ankle dapat terjadi pada semua orang, namun sprain ankle lebih sering dialami oleh orang-orang yang aktif berolahraga, seperti atlet. Adapun faktor-faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami sprain ankle antara lain:

1. Kelemahan  otot

  Kelemahan pada otot-otot pergelangan kaki tidak mampu memberikan dukungan yang cukup untuk pergerakan sendi, sehingga akan rentan mengalami cedera ankle yang tidak terduga. Kelemahan otot yang terjadi meliputi otot inventor yakni otot fleksor hallucis longus, tibialis anterior, dan tibialis posterior.

2. Cedera  berulang

   Pergelangan kaki yang pernah mengalami cedera sebelumnya akan lebih rentan untuk mengalaminya kembali. Hal ini karena ligamen yang robek akibat sprain sebelumnya mungkin belum sepenuhnya pulih sehingga lebih mudah terjadi cedera yang berulang.

3. Kurang melakukan pemanasan dan peregangan sebelum berolahraga

  Pemanasan dan peregangan sebelum berolahraga dapat membantu meningkatkan fleksibilitas serta mempersiapkan otot-otot untuk melakukan aktivitas fisik. Jika kurang dalam melakukan pemanasan dan peregangan dapat meningkatkan risiko terjadinya sprain ankle.

4. Keseimbangan yang buruk

   Kesulitan dalam menjaga keseimbangan saat berjalan maupun berlari dapat meningkatkan risiko terpeleset atau jatuh, sehingga dapat menyebabkan sprain ankle.

5. Permukaan lapangan olahraga yang tidak rata

    Permukaan lapangan olahraga yang tidak rata atau berlubang juga dapat menyebabkan kaki tersandung atau terpelintir saat sedang berolahraga, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya sprain ankle.

6. Pemakaian sepatu atau alas kaki yang kurang tepat

  Sepatu yang tidak pas atau memiliki alas kaki yang licin dapat meningkatkan risiko terpeleset dan jatuh, sehingga kemungkinan besar dapat menyebabkan sprain ankle.

Derajat Sprain Ankle

            Derajat Sprain  Ankle dibagi menjadi 3 yakni sprain  ankle  ringan,  sprain  ankle sedang  serta sprain  ankle  parah.

  • Sprain ankle ringan (derajat I)

Kondisi dimana terjadi peregangan minimal dari ligamen yang secara mikroskopis terlihat adanya ditemukan robekan-robekan kecil pada serat ligamen.  Hal tersebut mengakibatkan  terjadinya  inflamasi sehingga timbul respon  tubuh  berupa  nyeri  tekan  ringan  serta bengkak  pada sekitar  pergelangan  kaki. 

  • Sprain  ankle  sedang (derajat  II).

Sebagian serat ligamen robek sehingga mengakibatkan pembengkakan, memar, hingga nyeri  sedang  sampai berat,  kekakuan  sendi,  serta kesulitan dalam berjalan di pergelangan kaki sampai persendian disekitarnya. 

  • Sprain ankle parah (derajat III)

Gejala   yang   dialami   lebih   parah   dibandingkan   tingkat   lainnya (Nasution et al, 2006). Pada kondisi ini terdapat robekan lengkap dari ligamen ankle serta nyeri yang tidak terhantakan dan pembengkakan parah di sekitar pergelangan kaki. Saat  terjadi  sprain ankle yang  parah, penanganan dan perawatan yang tepat harus dilakukan agar tidak melemahkan jaringan ligamen di sekitar pergelangan kaki serta kemungkinan besar untuk terjadi cedera kembali (Lestari, 2019).

Penanganan awal dan intervensi yang dapat diberikan Fisioterapi

Mayoritas individu  yang  mengalami sprain  ankle menganggap  remeh  gejala  nyeri yang  mereka rasakan. Namun, jika hal tersebut tidak ditangani dengan baik dalam jangka waktu panjang maka akan beresiko tinggi terkena ankle  instability yang  dapat  menimbulkan  cedera  berulang  sampai menyebabkan gangguan berjalan akibat penurunan proprioseptif sendi serta kelemahan pada otot ankle (Alghadir et al., 2020). Oleh karena itu, fisioterapi memiliki peran penting untuk memberikan penanganan yang tepat dalam menangani sprain ankle tersebut. Pada fase awal / akut  penanganan  yang  harus  segera  dilakukan  dengan  tepat  yakni  dengan  metode PRICE yang terdiri dari Protection,  Rest,  Ice,  Compression,  dan  Elevation (Chen  et  al.,  2019).

  1. Protection: Memberikan perlindungan berupa taping untuk mencegah cedera lebih lanjut.
  2. Rest: Mengistirahatkan area cedera dengan menggunakan alat bantu jalan seperti kruk untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada ankle.
  3. Ice: Mengompres cedera dengan menggunakan es batu sehari 2 x selama 15-20 menit  yang berfungsi untuk mengurangi pembengkakan serta mengurangi nyeri pada area yang  cedera.
  4. Compression: Memberikan penekanan, misalnya dengan memasang perban elastik untuk mencegah terjadinya pergerakan pada ankle yang cedera
  5. Elevation: Meninggikan kaki yang cedera lebih tinggi dari level jantung yang berfungsi untuk mengurangi terjadinya pembengkakan.

Fisioterapi juga dapat memberikan intervensi komprehensif pada seseorang yang mengalami sprain ankle. Intervensi   komprehensif   yang   umum diberikan   pada   penderita sprain   ankle berupa elektroterapi   dengan   ultrasound   dikombinasikan   terapi   latihan   dan   kinesiotapping.

  1. Pemberian ultrasound

Pemberian  ultrasound  berfungsi untuk  menurunkan  atau mengurangi nyeri  melalui  efek  mekanik  berupa micro massage pada  jaringan  melalui  panas  yang dihasilkan  dari  gelombang  yang  diserap, dipantulkan  dan efek  fisiologis  untuk  menimbulkan  reaksi  radang  yang baru  agar  terjadi proses  penyembuhan pada luka.

  1. Terapi  latihan 

Pemberian terapi latihan dapat berfungsi untuk  mengembalikan  rentang  gerak sendi   yang mengalami cedera serta  untuk meningkatkan   fungsi   sensorik   yang   telah berkurang   akibat   dari cedera.   Selain   itu, dapat juga menggunakan tambahan   kinesiotaping  pada  fase  akut  dapat  melindungi  ankle  agar  tidak terjadi  cedera  lebih  lanjut  dan  bermanfaat  untuk mengurangi  bengkak  dan  meningkatkan proprioseptif pada pergelangan kaki (Allois et al., 2021).

Tips untuk mencegah terjadinya Sprain Ankle

  1. Melakukan pemanasan dan peregangan sebelum berolahraga untuk mencegah terjadinya ketegangan pada otot.
  2. Melakukan latihan keseimbangan untuk meningkatkan stabilitas otot, latihan yang dapat dilakukan seperti squad dan lunges.
  3. Berhati-hati saat melintasi permukaan yang tidak rata untuk menghindari terjadinya jatuh dan terpeleset.
  4. Melakukan latihan penguatan otot untuk meningkatkan stabilitas dan mengurangi risiko terjadinya sprain ankle, contohnya seperti heel raises (Berdiri dengan tegap, angkat tumit setinggi mungkin kemudian turunkan perlahan) dan inversion/eversion exercises (Duduk dengan posisi kaki lurus ke depan).
  5. Jangan mengabaikan cedera yang pernah terjadi sebelumnya agar tidak terjadi cedera berulang yang lebih parah serta konsultasikan dengan dokter atau ahli fisioterapi untuk melakukan program latihan khusus dalam memperkuat pergelangan kaki yang pernah mengalami cedera.

Sumber:

Alvera Ulya Hasdianti, F. R. (2022). Program Latihan Peningkatan Kemampuan Fungsional Pada Sprain Ankle Lateral Grade Iakut (A Case Report). [Online]
  Available At: Https://Bajangjournal.Com/Index.Php/JIRK/Article/View/4222/3133

Amanda Aura Putri, R. N. S. N. A. (2024). Pemeriksaan Radiografi Ankle Jointpada Kasus Spraindi RSAU Dr. M. Salamun Bandung. [Online]
  Available At: Https://Www.Jptam.Org/Index.Php/Jptam/Article/View/13721/10570

Andre Triadi Desnantyo, M. E. A. (2019). Anterior Talofibular Ligament (Atfl) Reconsruction With Modified Brostrom-Gould Technique Using Fiber Wire. [Online]
  Available At: Https://Pdfs.Semanticscholar.Org/Fe65/8d1182c2ff608b4f129f770ae89d5da1dcce.Pdf

Ega Fahla Agustianti, I. H. S. (2022). The Effectiveness Of Exercise Therapy In Sprain Ankle Cases: Case Report. [Online]
  Available At: Https://Repository.Urecol.Org/Index.Php/Proceeding/Article/View/2638/2596

Lanny Indriastuti, A. S. W. (2024). Tatalaksana Ankle Sprain. [Online]
  Available At: Https://Www.Rskariadi.Co.Id/News/629/TATALAKSANA-ANKLE-SPRAIN/Artikel#:~:Text=Gejala%20ankle%20sprain%20antara%20lain,Sendi%20pergelangan%20kaki%20jadi%20terbatas.
  [Accessed 24 Mei 2024].

Yeni Setyaningratri, D. R. K. (2022). Management Of Physiotherapy In Case Of Sprain Ankle Sinistra: A Case Report. [Online]
  Available At: Https://Repository.Urecol.Org/Index.Php/Proceeding/Article/View/2402/2363

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *